Senin, 08 Oktober 2012

Menapaki Jejak Soekarno di Tanah Karo

Bougenville di halaman rumah bercat putih itu seakan menjadi saksi bisu. Di dekatnya, tampak berdiri seorang tentara Belanda memangku senjata sedang berjaga. Bung Karno, Sutan Syahrir dan H Agus Salim kelihatan tertawa. Mengapa mereka tertawa? Bukankah mereka dalam pengasingan? Entahlah. Tapi, setidaknya itulah yang tergambarkan dalam foto memoar yang tergantung di dalam rumah bersejarah itu, kini.
Di Desa Laugumba, Kecamatan Berastagai Tanah Karo tepatnya di kawasan seluas 1,5 hektar, terdapat sebuah rumah semi permanen bercat putih, beratap seng berukuran 20×30 meter, dengan seluas taman yang ditumbuhi rerumputan hijau dan bunga-bunga. Tempatnya hening, jauh dari kebisingan. Angin berhembus sejuk hampir sepanjang waktu. Dan tahukah Anda bahwa di tempat itulah Soekarno, sang pelopor kemerdekaan dengan kedua tokoh penting itu pernah diasingkan semasa Belanda melancarkan Agresi Militer yang kedua, pada 1948.
Ir Soekarno yang juga digelari sebagai “putra sang fajar” merupakan presiden pertama Republik Indonesia (RI), H Agus Salim yang merupakan perdana menteri pertama RI, serta Sutan Syahrir menteri luar negeri RI, ketiganya pernah menginap selama 12 hari di sana. Setelah itu dibawa ke Parapat selama tiga hari dengan alasan faktor keamanan.
Fakta apa saja yang terdapat seputar pengasingan ketiga tokoh yang dianggap ektrimis oleh Belanda itu? Banyak versi yang menjelaskannya. Dari situs resmi Yayasan Bung Karno, Cindy Adams dalam bukunya “Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” (2001) menuliskan, “Berastagi berarti mengalami kehidupan Bengkulu lagi. Hanya saja, ada beberapa perbedaan. Satu: mereka tidak menamakan pengasingan. Sekarang istilah ‘penjagaan untuk keselamatan’. Dua: ‘kami dijauhkan dari isteri kami’. Dan tiga: ‘kami berada di lingkungan kawat berduri dengan diawasi enam orang pakai senapan mondar-mandir secara bersambung.’”
Versi lain. Dari antara mereka yang ditangkap di Yogja (Yogyakata-red), sembilan orang ditunjuk untuk diiternir tanpa kriteria tertentu. Tidak mengherankan bahwa Soekarno dan Hatta termasuk kelompok ini. Akan tetapi Syahrir, sebagai anggota Dewan Penasehat mempunyai kedudukan yang kurang penting, juga termasuk di dalamnya. Dari para menteri mula-mula, hanya Agus Salim yang dipilih. Di samping itu, diasingkan lagi Ketua KNIP Assa’at, Sekretaris Negara Pringgodigdo, dan S Suriadarma.
Pada 23 Desember 1948 mereka naik pesawat terbang yang dikendalikan oleh seorang komandan yang ditetapkan baru boleh membuka surat perintah bersegel “sangat rahasia” kalau sudah di udara. Kemudian waktu itu sang komandan tahu bahwa mereka harus pergi ke Pulau Bangka. Lalu ketika mendarat di ibukota Bangka, Pangkalpinang, Hatta bersama tiga orang tahanan lainnya disuruh meninggalkan pesawat. Mereka dipenjarakan di sana. Tiga orang yang masih tersisa, Soekarno, Syharir dan Agus Salim diterbangkan ke Medan. Dari sana mereka naik kendaraan ke Berastagi, sebuah kota di pegunungan kira-kira 60 kilometer dari Kota Medan.
Setelah ketiganya di Berastagi, tenyata di sana timbul masalah penjagaan, mereka bertiga lalu diasingkan ke tempat lain. Pada 1 Januari 1949 mereka dipindahkan ke Parapat, sebuah tempat liburan yang tidak jauh dari Berastagi. Di sana, mereka ditempatkan di sebuah rumah peristirahatan mewah yang lebih mudah dijaga. Demikian pula Lambert Giebels dalam bukunya “Soekarno Biografi 1901-1950” (2001) melukiskan peristiwa pengasingan Soekarno ke dari Berastagi ke Parapat.
Sedang, DR Asvi Warman Adam (sejarahwan LIPI) dalam keterangannya pada tahun 2005 menjelaskan, Bung Karno tak lama di Berastagi karena alasan keamanan. Tempat mereka menginap dianggap pihak Belanda tidak aman karena bisa diserang oleh Laskar Rakyat. Saat itu, Tanah Karo dikenal sebagai poros perjuangan rakyat Sumatra Utara untuk menegakkan kemerdekaan di Republik Indonesia. Mereka pun secepatnya dipindahkan ke Parapat (di pinggir Danau Toba) pada 1 Januari 1949. Dan pada 7 Februari, dari Parapat mereka dibawa ke Pulau Bangka. Mereka berkupul di sana. Lalu pada 6 Juli 1949 Bung Karno kembali ke Yogyakarta.
Rumah putih warisan kolonialis

“Kawan! Pusara adalah lambang kesinambungan hidup! Mati! Dalam perjuangan. Bahana kekal panggilan Bung Karno dari Blitar sampai Tanah Karo”
(Sitor Situmorang)
Demikian Sitor Situmorang, sastrawan angkatan 45 itu menuliskan seuntai kalimat tanda penghormatan pada “sang proklamator” pada sepetak batu marmer di Monumen Bung Karno, Laugamba Berastagi. Saksi bisu—pohon berbunga violet—itu masih tumbuh subur di sana memesona taman itu. Kicau burung-burung terdengar di balik pepohonan menambahi ketenangan suasana.
Alasan inikah yang membuat pemerintah kolonial Belanda membangun sebuah rumah peristirahatan, yang kelak menjadi rumah tawanan sementara bagi Soekarno dan dua tokoh penting itu di sana?
S Sinaga, sang penjaga bekas rumah tahanan yang selama ini sering digunakan sebagai mess (tempat peristirahatan) bagi pejabat Pemerintahan Sumatra Utara itu, menjelaskan bahwa memang rumah itu dulunya adalah kediaman khusus diperuntukkan bagi jenderal-jenderal Belanda selama melaksanakan tugasnya di daerah kolonial kawasan Tanah Karo.
Tak jelas kapan rumah ini dibangun, yang pasti sekitar tahun 1800-an, jelas Sinaga, yang merupakan anak dari J Sinaga, sang ayah yang pernah bekerja sebagai juru masak Belanda (koki) di rumah tersebut.
Hebatnya, meski setua itu, tampak kondisi bangunan dan perabotan yang ada di dalamnya masih tampak kuat dan awet. Soekarno ditempatkan sendiri dalam satu kamar. Di ruangan tengah antara kamar tidur Soekarno dengan kamar tidur Agus Salim dan Sutan Syahrir terdapat satu set meja dan kursi.
Ada juga lukisan tergantung di sana, sebuah lukisan artistik berobjek bunga, karya F Van Vreeland dan lukian sebuah ladang yang asri dan subur karya Jan Sleyter. Di dalam ruangan terasa adem, tenang. Nah, di ruang tamu akan didapati dua buah foto yang tergantung di dinding ruang tamu, yang masing-masing menggambarkan bahwa Seoekarno, Agus Salim dan Sutan Syahrir pernah singgah di tempat ini.
Kedua foto merupakan hasil reproduksi Sem Anthonius Meliala. Sedang foto aslinya, kata Sinaga, berada di tangan seorang warga negara Belanda, yang pada 2001pernah dipinjamkan kepada Sem untuk dicetak ulang.
“Inilah salah satu bukti sejarah yang menunjukkan bahwa Soekarno memang pernah diasingkan di Tanah Karo,” katanya sambil menunjukkan bougenville yang pohonnya masih tumbuh pendek dan di depannya tampak seorang Belanda memangku senjata berlars panjang sedang mengawasi mereka bertiga. Dan dalam foto tersebut, ketiganya terlihat sedang tertawa. Seokarno mengenakan pakaian kebesarannya, Sutan Syahrir mengenakan kemeja dan rompi, sedang Agus Salim tersenyum sambil memegang tongkatnya.
“Soekarno, Agus Salim dan Sutan Sharir diperlakukan secara terhormat. Mereka dianggap sebagai tahanan politik terhormat oleh Belanda waktu itu,” ujar Sinaga lalu kemudian menunjukkan kamar Bung Karno, dilengkapi dengan dua buah tempat tidur, lemari dan kamar mandi terpisah dari ruangan. Semuanya terlihat masih terawat dan kuat.
Di luar, tepat di tengah halaman rumah, berdiri sebuah monumen perunggu (replika) Soekarno sedang duduk menyilangkan kaki kanannya. Dengan dua buah lampu sorot di kiri dan di kanan, pahatan buah tangan Djoni Basri bangunan yang diberi nama Monumen Bung Karno ini diresmikan pada 22 Desember 2005 oleh Gubernur Sumatra Utara (waktu itu T Rizal Nurdin), dan Ketua Yayasan Bung Karno Guruh Soekarnoputra.
Awalnya, pemugaran rumah tahanan Bung Karno yang dimulai April 2001 (menjelang 100 tahun Bung Karno) akan dilengkapi dengan patung Bung Karno setinggi 7 meter, menggambarkan Bung Karno sedang menunjuk ke depan dengan tangan kanan, sementara tangan kiri menjepit tongkat komando. Akan tetapi, rencana itu berobah. “Guruh mengatakan kesan patung demikian rupa diragukan akan menimbukan opini publik yang beragam tentang Bung Karno,” tutur Sinaga.

Jalan Medan-Brastagi Kembali Macet Total

keterangan gambar : Truk yang membuat jalan macet melanggar PP Gubernur leluasa melintas timbangan membawa air mineral dari Daulu Tanah Karo, setelah memberi uang.
BERASTAGI, KORAN KARO
Arus lalu lintas Medan-Berastagi dan sebaliknya, Sabtu (6/10) macet total. Kemacetan itu, selain disebabkan, truk sarat muatan dari Medan menuju arah Tanah Karo juga puluhan truk dua sumbu yang membawa air mineral dari arah Tanah Karo secara beriringan menghambat mobil pribadi.

Pantauan wartawan, truk dua sumbu yang menuju Medan membawa muatan air mineral, yang membuat jalan macat melintas di jembatan timbangan tanpa menghiraukan PP Gubernur yang melarang melintas pada hari libur sampai pukul 22.00wib.

Ketika ditanya wartawan supir truk air mineral AS dan DS di Timbangan Sibolangit mengatakan, kalau melintas timbangan dengan membayar Rp50 ribu, kapan saja bisa melintas. "Dengan uang Rp 50 ribu, kita bisa lewat kapan saja," ujar AS dan DS.

Kepala Jaga Timbangan Sibolangit ketika dihubungi tidak bertemu, dan anggotanya mengatakan tidak ada di tempat. Dikonfirmasi tentang pembayaran Rp 50 ribu setiap truk dua sumbu yang melintas, 8 petugas jembatan timbangan Sibolangit yang bertugas tidak satupun yang menjawab

KUPT Jembatan Timbang Bandar Baru Kecamatan Sibolangit, Pinem ketika dikonfirmasi melalui telepon mengatakan, jika hal itu benar diberitakan saja.

Demikian juga sejumlah kendala lainnya juga ditemui di perbatasan Deliserdang-Kabupaten Karo. Beberapa truk dan mobil pribadi rusak di kilometer 52-53 sebelum puncak Penatapen, Doulu, Kecamatan Berastagi.

Sejumlah polisi dari Polres Karo terpaksa "turun gunung" ke Sibolangit mengatur lalu lintas hingga kelancaran lalu lintas mulai mencair pada pukul 22.30 wib.

"Ini perlu segera dicari solusinya, hingga tidak tiap hari terjadi kemacetan di jalan negara ini. Perda Gubsu tentang larangan lintas truk bersumbu dua pada hari Sabtu, Minggu dan hari libur nasional lainnya juga sudah diabaikan.

Truk membawa batu dolomit dan air mineral sarat muatan juga bebas lewat timbangan Sibolangit.

Danrem 023-KS Kunjungi Kodim 0205-Tanah Karo

Keterangan gambar : Danrem 023/Kawal Samudra Kol Inf Andika Pratama menanam bibit pohon jambu di Makodim 0205/Tanah Karo.

BERASTAGI, KORAN KARO
Danrem 023/Kawal Samudra Kol Inf Andika Pratama didampingi Ketua Persit Korcab Rem, Diah Hety Perkasa dan Kasrem Letkol Inf Martohap Simorangkir serta rombongan kunjungan kerja ke Kodim 0205/ Tanah Karo, Selasa (2/10). Kedatangan Danrem dan rombongan disambut Dandim 0205/Tanah Karo serta Ketua Cabang Persit Kodim 0205/Tanah Karo serta jajaranya, di Makodim Jalan Djamin Ginting Desa Raya Kecamatan Berastagi.

Danrem 023/KS menyebutkan, sebagai anggota TNI wajib mengikuti kedisiplinan dan prosedur dalam menjalankan tugas, mengutamakan kordinasi dalam berkomunikasi, hingga kecanggihan teknologi di era sekarang ini dapat dimanfaatkan fasilitasnya sebagai penunjang tugas.

"Seorang anggota TNI lebih terhormat mati di medan tempur, daripada mati dalam kecelakaan mengejar disiplin dalam apel pagi. Saya tidak sependapat dengan hal, itu. Keamanan dan kenyamanan bertugas serta hidup rukun mengutamakan keluarga hal yang terpuji. Meskipun tugas nomor dua dibanding keluarga, tetapi rasa bela bangsa dan negara tetap terpupuk dengan subur, agar kedisiplinan diri tetap menonjol," katanya.

Untuk itu, gunakan hand pon sebagai alat komunikasi jika, sedikit terlambat dalam apel pagi dan gunakan pula teknologi ini secara stand by selama batas waktu yang dibutuhkan, jelas Danrem.

Sedang Ketua Persit Korcab Rem, Diah Hety Perkasa mengakui, bentuk cinta kasih yang diberikan kepada suami yang merupakan seorang TNI harus benar-benar tulus. Sebab, cinta yang dalam bentuk segalanya bukan saja sebagai penyemangat dalam tugas suami, tetapi sumber kebahagian dalam keluarga.

Dalam kunjungan ini juga dilakukan pemberian bingkisan, menanam bibit jambu, peresmian mushala ditandai pengguntingan pita oleh Ketua Persit Korcab Rem, Diah Hety Perkasa.

Simulasi Pam VVIP TNI AD Yonif 125 Simbisa Tanah Karo

KABANJAHE, KORAN KARO
Simulasi pengamanan (Pam) VVIP TNI AD Yonif 125/Simbisa, yang mengawal mobil presiden dihadang massa dengan cara melakukan aksi demo menuntut kenaikan upah dan bakar ban di jalan saat mobil presiden berkunjung ke Kabupaten Karo digelar,di Kabanjahe, Sabtu (29/9) "Pengamanan VVIP TNI AD Yonif 125/Simbisa digelar selama tujuh hari mulai tanggal 24 September sampai tanggal 1 Oktober 2012. VVIP dilakukan sesuai dengan undang–undanng nomor 34/2004 untuk pengamanan kunjungan presiden, wakil presiden, pejabat negara serta tamu negara sederajat saat berkunjung ke Kabupaten Karo," kata Danyon Yonif/125 Simbisa, Mayor INF. Parluhutan M kepada wartawan di sela-sela PAM di markas komando (Mako), Kabanjahe.

Selain tugas pokok TNI AD Yonif 125/Simbisa mengatasi perang, juga melakukan tugas pengamanan yang bertujuan untuk keselamatan kunjungan dari kepala negara serta tamu negara apa bila datang ke daerah.

Pam VVIP diikuti 176 peserta, terdiri dari 146 pelaku dan penyelenggara 30 orang yang tergabung dengan Polisi Militer (PM). Selain memberi pelajaran teori selama 4 hari dan peraktek dua hari, lanjut Danyon.

Pantauan wartawan, latihan digelar dari markas komando (Mako) jalan lintas Kabanjahe menuju jalan Jamin Ginting dan dihadang para pendemo dengan yel–yel kenaikan gaji serta dibarengi atas pembakaran ban di jalan, ketika mobil presiden menuju titik lokasi Masjid Agung Kabanjahe.

Selama pelaksanaan PAM, ratusan masyarakat menyaksikan simulasi. Masyarakat banyak tertanya-tanya, kejadian apa yang terjadi dan sedikit mengetahui itu simulasi PAM.

Bupati Karo Lepas Ratusan Ekor Burung Jalak

KABANJAHE, KORAN KARO
Bupati Karo DR (HC) Kena Ukur Karo Jambi Surbakti melepaskan ratusan ekor burung Jalak yang diyakini dapat memangsa hama lalat buah, Kamis (27/9) pukul 09.33 WIB "Dengan dua ekor burung Jalak saja, diyakini mampu menjaga satu hektar tanaman jeruk. Jadi dengan semakin banyak burung dilepas, diyakini pemangsa ulat-ulat pada tanaman pertanian masyarakat Karo akan semakin mengarah menuju lebih baik," kata Bupati Karo seusai melepas burung Jalak di halaman Kantor Bupati Karo di hadapan sejumlah Kepala Desa se Tanah Karo.

Menurut bupati, dengan menjaga kelestarian lingkungan alam ditambah dengan prilaku masyarakat yang peduli lingkungan, dengan sendirinya hama akan berkurang.

Dengan demikian, perekonomian rakyat akan terdongkrak kembali setelah diporak porandakan hama lalat buah pada tanaman jeruk. Bahkan, sekarang ini hama lalat buah tidak hanya merusak tanaman jeruk, tetapi tanaman tomat dan terong antaboga juga sudah mulai diserang lalat buah.

"Begitu juga dengan tanaman kelapa dan kemiri sudah mulai menurun produksinya. Hal ini, tentu saja sangat merusak sendi-sendi perekonomian rakyat yang mayoritas petani," katanya.

Kegiatan melepas burung jalak ini akan dilanjutkan secara terus menerus sampai pada tingkat kecamatan dan desa. Kepada Camat se jajaran Pemerintah Kabupaten Karo, disarankan bupati agar melepas burung jalak.

Pemerintahan desa juga disarankan, untuk membuat peraturan di desa agar larangan bagi para pemikat burung dan juga melarang penangkapan ikan dengan cara menyetrum

Kamis, 27 September 2012

DPRD Karo Nilai Rekening Pihak Ketiga Rancu

KABANJAHE, KORANKARO
DPRD Karo menemukan kerancuan, terkait rincian penyetoran sumbangan pihak ketiga yang tidak mengikat dalam penerimaan lain-lain, khususnya di galian C batu dolomit. Hal itu terungkap, ketika gelar pemandangan umum antar Fraksi DPRD Karo terhadap rancangan peraturan daerah Kabupaten Karo tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD tahun anggaran 2011 di ruang sidang paripurna DPRD Karo, Selasa (25/9).

Dalam pemandangan umum Fraksi Golkar yang disampaikan Ketua fraksi Frans Dante Ginting, berkaitan dengan rincian objek pendapatan sumbangan pihak ketiga, yang tidak mengikat dengan kode objek pendapatan (4.1.4.15) yang terelaisasi Rp 13.176.202,50. Pendapatan itu atas pemanfaatan hutan bukan kayu.

Selaras dengan rincian pendapatan objek itu dan kaitannya dengan kesepakatan bersama Asosiasi Pengusaha Dolomit Indonesia (APDI) dengan Pemkab Karo tanggal 24 Agustus 2011 lalu, serta surat Bupati Karo tertangga 5 September 2012.

Prihal penyampaian data-data tindak lanjut laporan hasil BPK-RI, penyetoran sumbangan pihak ketiga dari penambang dolomit dibukukan dalam pos penerimaaan lain-lain dengan kode rincian objek pendapatan (4.1.4.14) sebesar Rp 24 juta, dengan alasan karena tidak ada kode rekening sumbangan pihak ketiga dari penambang dolomit.

"Sudah jelas ada nomenclatur sumbangan pihak ketiga. Sebelumnya telah ada kesepakatan antara Pemkab Karo dengan APDI. Namun, mengapa sumbangan pihak ketiga itu dialihkan ke nomor rekening lain, jelas ada kerancuan," ujar Wakil Ketua DPRD Karo Ferianta Purba SE, usai sidang kepada wartawan di ruang kerjanya.

Sidang dilanjutkan, Selasa (2/10) mendatang dengan agenda jawaban pemerintah atas pemandangan Fraksi-fraksi DPRD Karo. Selain kerancuan rekening, pemasukan PAD tahun 2011 dari galian C batu dolomit Rp 37.420.000,00 juga dinilai sangat minim dan tidak masuk diakal. Karena bahan tersebut berlimpah ruah penambangannya secara kasat mata.

Jumat, 14 September 2012

Lima Pintu Rumah Kontrakan Terbakar di Tigabinanga

Keterangan Gambar :lima pintu rumah kontrakan milik Mitcha Sebayang hangus di lalap sijago merah

Tanah Karo, KORANKARO
Sejumlah lima pintu rumah petak permanen milik penduduk terbakar di Lingkungan Dua Jalan  Pekan Lama Kelurahan Tigabinanga Kecamatan Tigabinanga Kabupaten Karo,Kamis malam (13/9) sekira pkl 19.15 WIB.
          Informasi  diperoleh dari lapangan,ke lima rumah yang terbakar tersebut merupakan rumah sewa (kontrakan) milik Mitcha Sebayang yang juga salah satu wartawan harian terbitan Medan.  Camat Tigabinanga,Satria Ginting,SH,menyebutkan rumah yang terbakar tersebut dihuni Bistok Silaban,Sidauruk,Peri,Maria br Simanjuntak dan Leo Silalahi. Dalam kejadian tersebut, sejumlah hasil pertanian warga seperti kemiri, kacang ijo dan lainnya serta uang kontan sebesar Rp. 10 juta ikut terbakar.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Sementara kerugian harta benda diperkirakan ratusan juta rupaih. Penyebab kebakaran belum diketahui secara pasti  dan masih dalam penanganan pihak berwajib.sementara berdasarkan informasi yang di diperoleh dan diduga  bahwa kebakaran terjadi di duga akibat gas dan selangnya bocor saat api di nyalakan disalah satu penghuni rumah untuk memasak kue.
Kepala UPTD Barisan Pencegah Pemadam Kebakaran (BP2K) Pemkab Karo,Juris Tarigan,SH mengatakan, sejumlah dua unit mobil Pemadam Kebakaran (Damkar) diturunkan ke tempat kejadian dan kobaran api dapat dipadamkan sekira pukul  21 WIB.
Sementara itu Mitcha Sebayang di konfirmasi wartawan melalui telepon selulernya Jumat,(14/9),membenarkan lima rumah kontrakanya hangus di lalap si jago merah semalam.tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut,namun barang-barang milik penghuni rumah hangus terbakar.di taksir kerugian ratusan juta rupiah.
Di tambahkan Mitcha Sebayang yang juga mantan Anggota DPRD Karo ini,sampai saat ini belum ada bantuan yang di berikan oleh Pemkab Karo,namun beberapa jam yang lalu, pihak Pastor Faroki Tigabinaga Moses Elias Situmorang Sebayang memberikan bantuan kepada korban kebakaran berupa 5 sak beras dan 5 kardus mie instan.ujarnya.
Kapolsek Tigabinanga AKP Mataniari melalui Kanitreskrim Aiptu Adum Ginting kepada wartawan melalui telepon selulernya Jumat(14/9) sekitar pukul 15.00 WIB membenarkan kejadian itu. “ Saat ini telah kita mintai keterangan dari warga tentang kejadian itu, sementara sumber api masih dalam penyelidikan kita,” tegas Adum Ginting.