Lalat buah atau citcit menjadi musuh petani buah, khususnya petani
jeruk di sentra produksi jeruk di Sumatera Utara (Sumut) seperti Karo.
Hama tersebut akan sulit dikendalikan jika tidak dilakukan secara
serentak oleh semua petani.
Kepala Laboratorium Pengendalian Hama dan Penyakit Medan Johor Badan
Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Sumut Utema Silan
mengatakan selama ini pengendalian lalat buah tidak dilakukan secara
serentak oleh petani.
Padahal, sosialisasi tentang lalat buah dan penanganannya sudah
dilakukan sejak lama. “Penanganan lalat buah tidak bisa dilakukan secara
parsial, harus serentak, semua petani harus melakukannya,” ujarnya,
kemarin.
Ia menjelaskan, sejak 2002, sosialisasi pengendalian lalat buah sudah
dilakukan dengan mengumpulkan para petani. Sosialiasai tersebut terus
dilakukan namun diakuinya yang menjadi persoalan yang lebih komplek
adalah penanganan yang belum serentak.
“Karena itu sekarang pemerintah mencanangkan gerakan nasional
pengendalian lalat buah, dan Karo sebagai sentra pengendaliannya diikuti
kabupaten sekitarnya,” katanya.
Utema mengungkapkan, lalat buah merupakan hama yang dapat berkembang
biak dengan cepat apalagi jika tidak ditangani dengan tepat. Teknologi
yang selama ini digunakan petani adalah menggunakan perangkap yang
dipasang di tangkai tanaman dengan sebuah botol/meblok yang mana di
bagian dalamnya terdapat sex feromon (metil eugenol/me) yang ditambah
dengan racun.
Perangkap yang dilengkapi dengan zat penarik lalat jantan dan racun
tersebut efektif mengurangi serangan lalat buah. Namun akan menjadi
sia-sia jika tidak dibarengi dengan pembersihan lahan secara rutin.
Menurutnya, beberapa petani sampai sekarang masih belum mau membersihkan
lahannya dari jeruk yang membusuk di bawah pohonnya.
Padahal, jika jeruk yang membusuk tersebut tidak diambil akan menjadi
pelindung bagi lalat buah untuk berkembang biak. “Karo sudah
mencanangkan langkah yang tepat untuk mengendalikan lalat buah dengan
menetapkan hari Jumat sebagai hari melakukan pembersihan kebun dari
jeruk yang membusuk kemudian memasukkannya ke dalam plastik kedap
udara,” jelas Utema.
Setelah di dalam plastik dan semakin membusuk selama beberapa waktu,
jeruk tersebut bisa dijadikan sebagai pupuk. “Dengan begitu pengendalian
lalat buah bisa dilakukan dengan praktis dan mudah serta menguntungkan
karena jeruk yang membusuk tersebut akhirnya bisa dijadikan pupuk,”
katanya
Jumat, 26 Oktober 2012
Polres Karo Tangkap Bandar Togel
TANAH KARO,KORANKARO
Polres Karo menangkap bandar besar judi dan togel di Desa Laupakam Kecamatan Mardinding, Jumat (19/10). Tersangka, PT (37). Petugas juga menyita barang bukti uang tunai Rp 2,2 juta, 162 blok kupon, satu buku tafsir mimpi, 37 blok kertas rekap, tiga stabilo, 420 set kertas rekap yang berisi nomor tebakan dan 49 set kertas rekap ukuran kecil. Penangkapan ini berkat pengembangan kasus penangkapan sebelumnya dilakukan Polsek Mardinding. Pelaku ditangkap di rumah kontrakannya.
Kapolres Karo AKBP Marcelino Sampouw SIK kepada wartawan, Senin (22/10) mengatakan, Polres Karo tetap berkomitmen untuk memberantas keberadaan togel di Kabupaten Karo.
Hal itu dibuktikan Polres Karo beberapakali melakukan razia ke pelosok Tanah Karo, guna memberantas judi togel yang mewabah di masyarakat Karo belakangan ini. Kapolres mengajak organisasi pemuda dan masyarakat bersatu membasmi perjudian togel di Tanah Karo.
Keberadaan judi togel di Karo, di perkirakaan omzetnya per bulan mencapai puluhan miliar rupiah. Dana ini didapat dari pembeli togel.
Seperti diketahui, bandar togel yang ditangkap ini omzetnya per bulan mencapai miliaran rupiah.
"Sejauh ini, Polres Karo sudah berupaya keras melakukan yang terbaik terkait pemberantasan judi togel, yang belakangan mewabah di masyarakat Karo. Kita berharap masalah togel di Tanah Karo bisa dibasmi segera mungkin dengan kerjasama semua pihak," ungkap Kabag Humas Polres Karo melalui Iptu Suria Ginting.
Masyarakat berharap togel di bumi beradat Karo Semalem cepat basmi sebab, keberadaanya sangat meresahkan, terlebih kaum ibu yang harus berkurang pendapatanya karena uang hasil kerja suami dibagi kepada dua dapur, yakni pertama dapur rumah tangga dan kedua dapur togel, katanya.
Polres Karo menangkap bandar besar judi dan togel di Desa Laupakam Kecamatan Mardinding, Jumat (19/10). Tersangka, PT (37). Petugas juga menyita barang bukti uang tunai Rp 2,2 juta, 162 blok kupon, satu buku tafsir mimpi, 37 blok kertas rekap, tiga stabilo, 420 set kertas rekap yang berisi nomor tebakan dan 49 set kertas rekap ukuran kecil. Penangkapan ini berkat pengembangan kasus penangkapan sebelumnya dilakukan Polsek Mardinding. Pelaku ditangkap di rumah kontrakannya.
Kapolres Karo AKBP Marcelino Sampouw SIK kepada wartawan, Senin (22/10) mengatakan, Polres Karo tetap berkomitmen untuk memberantas keberadaan togel di Kabupaten Karo.
Hal itu dibuktikan Polres Karo beberapakali melakukan razia ke pelosok Tanah Karo, guna memberantas judi togel yang mewabah di masyarakat Karo belakangan ini. Kapolres mengajak organisasi pemuda dan masyarakat bersatu membasmi perjudian togel di Tanah Karo.
Keberadaan judi togel di Karo, di perkirakaan omzetnya per bulan mencapai puluhan miliar rupiah. Dana ini didapat dari pembeli togel.
Seperti diketahui, bandar togel yang ditangkap ini omzetnya per bulan mencapai miliaran rupiah.
"Sejauh ini, Polres Karo sudah berupaya keras melakukan yang terbaik terkait pemberantasan judi togel, yang belakangan mewabah di masyarakat Karo. Kita berharap masalah togel di Tanah Karo bisa dibasmi segera mungkin dengan kerjasama semua pihak," ungkap Kabag Humas Polres Karo melalui Iptu Suria Ginting.
Masyarakat berharap togel di bumi beradat Karo Semalem cepat basmi sebab, keberadaanya sangat meresahkan, terlebih kaum ibu yang harus berkurang pendapatanya karena uang hasil kerja suami dibagi kepada dua dapur, yakni pertama dapur rumah tangga dan kedua dapur togel, katanya.
Jalan Lintas Karo-Aceh Tenggara Putus
MARDINDING,KORANKAROJalan lintas Karo - Aceh Tenggara putus
total, tepatnya di Desa Sumbekan Kecamatan Mardinding Kabupaten Karo,
Selasa (23/10). Hal itu mengakibatkan ratusan kenderaan yang menuju
Tanah Karo ataupun sebaliknya terpaksa mengantri berjam-jam.
Sebagian para penumpang
angkutan umum yang membawa barang, seperti beras dan yang lainnya harus
berjalan kaki hingga ratusan meter, dan memanggul barang bawaannya untuk
pindah ke mobil yang lain. Terputusnya jalan tersebut akibat banyaknya
sampah yang menutupi gorong-gorong, sehingga dam yang tidak dapat mampu
menampung tinggi debit air, sehingga air menjebol jalan.
Untuk mengantisipasi agar jalan tersebut dapat dilalui kenderaan, didatangkan alat berat untuk mengorek tanah serta membuat saluran air yang sudah memenuhi dam tersebut. Pengerjaan itu dilakukan oleh warga serta memasang gorong-gorong agar dapat dilalui.
Menurut salah satu warga desa bermarga Sembiring Sinulaki mengatakan kepada wartawan, Rabu (24/10) jalan tersebut putus diakibatkan saluran air yang sudah memenuhi dam. Sementara gorong-gorong yang berada di bawah badan jalan tertutup akibat banyaknya ampah dan air tidak dapat lagi mengalir sebagai mana biasanya. "Mungkin akibat banyaknya sampah itu, air yang memenuhi dam tersebut menjebol jalan," ujarnya.
Ditambahkan Sinulaki lagi, saat terjadinya longsor tersebut mobil yang akan menuju Aceh Tenggara maupun ke Tanah Karo harus melalui Lau Pakam dan tembus Desa Mardinding. Tetapi banyak keluhan supir saat melintasi desa tersebut, karena sebagian warga ada yang melempari mobil.
Selain itu di lokasi terjadinya jalan putus tersebut ada juga sebagian warga mencari kesempatan, karena setiap mobil yang melintas warga mengutip bayaran. Sedangkan mobil yang lengket di lokasi dikenakan biaya tambahan karena telah disediakan Damp Truck untuk menarik mobil.
Sementatara dari pihak terkait sampai saat ini belum ada yang meninjau lokasi terputusnya jalan tersebut. "Apabila tidak segera dibenahi kemungkinan besar jalan tersebut akan mengalami putus total dan merugikan bagi masyarakat", ujar Sembiring Sinulaki.
Untuk mengantisipasi agar jalan tersebut dapat dilalui kenderaan, didatangkan alat berat untuk mengorek tanah serta membuat saluran air yang sudah memenuhi dam tersebut. Pengerjaan itu dilakukan oleh warga serta memasang gorong-gorong agar dapat dilalui.
Menurut salah satu warga desa bermarga Sembiring Sinulaki mengatakan kepada wartawan, Rabu (24/10) jalan tersebut putus diakibatkan saluran air yang sudah memenuhi dam. Sementara gorong-gorong yang berada di bawah badan jalan tertutup akibat banyaknya ampah dan air tidak dapat lagi mengalir sebagai mana biasanya. "Mungkin akibat banyaknya sampah itu, air yang memenuhi dam tersebut menjebol jalan," ujarnya.
Ditambahkan Sinulaki lagi, saat terjadinya longsor tersebut mobil yang akan menuju Aceh Tenggara maupun ke Tanah Karo harus melalui Lau Pakam dan tembus Desa Mardinding. Tetapi banyak keluhan supir saat melintasi desa tersebut, karena sebagian warga ada yang melempari mobil.
Selain itu di lokasi terjadinya jalan putus tersebut ada juga sebagian warga mencari kesempatan, karena setiap mobil yang melintas warga mengutip bayaran. Sedangkan mobil yang lengket di lokasi dikenakan biaya tambahan karena telah disediakan Damp Truck untuk menarik mobil.
Sementatara dari pihak terkait sampai saat ini belum ada yang meninjau lokasi terputusnya jalan tersebut. "Apabila tidak segera dibenahi kemungkinan besar jalan tersebut akan mengalami putus total dan merugikan bagi masyarakat", ujar Sembiring Sinulaki.
Polres Karo Temukan Ladang Ganja
NAMAN TERAN, KORAN KARO
Polres Tanah Karo menemukan ladang ganja siap panen di perbukitan Gunung Sinabung atau Juma Uruk Sinabung, Desa Sigarang-garang, Kecamatan Naman Teran Kabupaten Karo, Selasa (23/10). Penemuan ladang ganja sebanyak 424 pohon itu, berawal dari laporan warga. "Saya mendapat informasi dari masyarakat tentang keberadaan ladang ganja ini," ujar Kapolres Karo AKBP Marcelino Sampuow di halaman Mapolres Tanah Karo.
Begitu mendapat informasi itu, polisi yang berkoordinasi dengan Pemerintahan Desa Sigarang-garang dan beberapa warga desa menuju lokasi. Tanaman ganja itu diperkirakan berusia 3,5 bulan yang memiliki panjang sekitar 1,5 meter, hingga tinggal beberapa bulan lagi siap untuk dipanen.
"Saat menuju lokasi ladang ganja di Desa Sigarang-garang, jarak tempuh sekira tiga kilometer. Dibutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk tiba di lokasi dari pemukiman penduduk. Rute menuju ladang ganja curam dan perbukitan, sampai saat ini pihaknya belum mengetahui siapa pemilik ladang ganja itu," ujarnya.
Dikatakannya, selama kurang lebih enam bulan bertugas di Tanah Karo, dia sudah menemukan dua lokasi ladang ganja , dan informasinya selalu dapat laporan dari masyarakat yang peduli terhadap masa depan masyarakat Karo dan bahaya narkotika, ujarnya.
Polres Tanah Karo menemukan ladang ganja siap panen di perbukitan Gunung Sinabung atau Juma Uruk Sinabung, Desa Sigarang-garang, Kecamatan Naman Teran Kabupaten Karo, Selasa (23/10). Penemuan ladang ganja sebanyak 424 pohon itu, berawal dari laporan warga. "Saya mendapat informasi dari masyarakat tentang keberadaan ladang ganja ini," ujar Kapolres Karo AKBP Marcelino Sampuow di halaman Mapolres Tanah Karo.
Begitu mendapat informasi itu, polisi yang berkoordinasi dengan Pemerintahan Desa Sigarang-garang dan beberapa warga desa menuju lokasi. Tanaman ganja itu diperkirakan berusia 3,5 bulan yang memiliki panjang sekitar 1,5 meter, hingga tinggal beberapa bulan lagi siap untuk dipanen.
"Saat menuju lokasi ladang ganja di Desa Sigarang-garang, jarak tempuh sekira tiga kilometer. Dibutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk tiba di lokasi dari pemukiman penduduk. Rute menuju ladang ganja curam dan perbukitan, sampai saat ini pihaknya belum mengetahui siapa pemilik ladang ganja itu," ujarnya.
Dikatakannya, selama kurang lebih enam bulan bertugas di Tanah Karo, dia sudah menemukan dua lokasi ladang ganja , dan informasinya selalu dapat laporan dari masyarakat yang peduli terhadap masa depan masyarakat Karo dan bahaya narkotika, ujarnya.
Senin, 08 Oktober 2012
Menapaki Jejak Soekarno di Tanah Karo
Bougenville di halaman rumah bercat putih itu seakan menjadi saksi
bisu. Di dekatnya, tampak berdiri seorang tentara Belanda memangku
senjata sedang berjaga. Bung Karno, Sutan Syahrir dan H Agus Salim
kelihatan tertawa. Mengapa mereka tertawa? Bukankah mereka dalam
pengasingan? Entahlah. Tapi, setidaknya itulah yang tergambarkan dalam
foto memoar yang tergantung di dalam rumah bersejarah itu, kini.
Di Desa Laugumba, Kecamatan Berastagai Tanah Karo tepatnya di kawasan
seluas 1,5 hektar, terdapat sebuah rumah semi permanen bercat putih,
beratap seng berukuran 20×30 meter, dengan seluas taman yang ditumbuhi
rerumputan hijau dan bunga-bunga. Tempatnya hening, jauh dari
kebisingan. Angin berhembus sejuk hampir sepanjang waktu. Dan tahukah
Anda bahwa di tempat itulah Soekarno, sang pelopor kemerdekaan dengan
kedua tokoh penting itu pernah diasingkan semasa Belanda melancarkan
Agresi Militer yang kedua, pada 1948.
Ir Soekarno yang juga digelari sebagai “putra sang fajar” merupakan
presiden pertama Republik Indonesia (RI), H Agus Salim yang merupakan
perdana menteri pertama RI, serta Sutan Syahrir menteri luar negeri RI,
ketiganya pernah menginap selama 12 hari di sana. Setelah itu dibawa ke
Parapat selama tiga hari dengan alasan faktor keamanan.
Fakta apa saja yang terdapat seputar pengasingan ketiga tokoh yang
dianggap ektrimis oleh Belanda itu? Banyak versi yang menjelaskannya.
Dari situs resmi Yayasan Bung Karno, Cindy Adams dalam bukunya
“Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” (2001) menuliskan, “Berastagi
berarti mengalami kehidupan Bengkulu lagi. Hanya saja, ada beberapa
perbedaan. Satu: mereka tidak menamakan pengasingan. Sekarang istilah
‘penjagaan untuk keselamatan’. Dua: ‘kami dijauhkan dari isteri kami’.
Dan tiga: ‘kami berada di lingkungan kawat berduri dengan diawasi enam
orang pakai senapan mondar-mandir secara bersambung.’”
Versi lain. Dari antara mereka yang ditangkap di Yogja
(Yogyakata-red), sembilan orang ditunjuk untuk diiternir tanpa kriteria
tertentu. Tidak mengherankan bahwa Soekarno dan Hatta termasuk kelompok
ini. Akan tetapi Syahrir, sebagai anggota Dewan Penasehat mempunyai
kedudukan yang kurang penting, juga termasuk di dalamnya. Dari para
menteri mula-mula, hanya Agus Salim yang dipilih. Di samping itu,
diasingkan lagi Ketua KNIP Assa’at, Sekretaris Negara Pringgodigdo, dan S
Suriadarma.
Pada 23 Desember 1948 mereka naik pesawat terbang yang dikendalikan
oleh seorang komandan yang ditetapkan baru boleh membuka surat perintah
bersegel “sangat rahasia” kalau sudah di udara. Kemudian waktu itu sang
komandan tahu bahwa mereka harus pergi ke Pulau Bangka. Lalu ketika
mendarat di ibukota Bangka, Pangkalpinang, Hatta bersama tiga orang
tahanan lainnya disuruh meninggalkan pesawat. Mereka dipenjarakan di
sana. Tiga orang yang masih tersisa, Soekarno, Syharir dan Agus Salim
diterbangkan ke Medan. Dari sana mereka naik kendaraan ke Berastagi,
sebuah kota di pegunungan kira-kira 60 kilometer dari Kota Medan.
Setelah ketiganya di Berastagi, tenyata di sana timbul masalah
penjagaan, mereka bertiga lalu diasingkan ke tempat lain. Pada 1 Januari
1949 mereka dipindahkan ke Parapat, sebuah tempat liburan yang tidak
jauh dari Berastagi. Di sana, mereka ditempatkan di sebuah rumah
peristirahatan mewah yang lebih mudah dijaga. Demikian pula Lambert
Giebels dalam bukunya “Soekarno Biografi 1901-1950” (2001) melukiskan
peristiwa pengasingan Soekarno ke dari Berastagi ke Parapat.
Sedang, DR Asvi Warman Adam (sejarahwan LIPI) dalam keterangannya
pada tahun 2005 menjelaskan, Bung Karno tak lama di Berastagi karena
alasan keamanan. Tempat mereka menginap dianggap pihak Belanda tidak
aman karena bisa diserang oleh Laskar Rakyat. Saat itu, Tanah Karo
dikenal sebagai poros perjuangan rakyat Sumatra Utara untuk menegakkan
kemerdekaan di Republik Indonesia. Mereka pun secepatnya dipindahkan ke
Parapat (di pinggir Danau Toba) pada 1 Januari 1949. Dan pada 7
Februari, dari Parapat mereka dibawa ke Pulau Bangka. Mereka berkupul di
sana. Lalu pada 6 Juli 1949 Bung Karno kembali ke Yogyakarta.
Rumah putih warisan kolonialis
“Kawan! Pusara adalah lambang kesinambungan hidup! Mati! Dalam perjuangan. Bahana kekal panggilan Bung Karno dari Blitar sampai Tanah Karo”
“Kawan! Pusara adalah lambang kesinambungan hidup! Mati! Dalam perjuangan. Bahana kekal panggilan Bung Karno dari Blitar sampai Tanah Karo”
(Sitor Situmorang)
Demikian Sitor Situmorang, sastrawan angkatan 45 itu menuliskan
seuntai kalimat tanda penghormatan pada “sang proklamator” pada sepetak
batu marmer di Monumen Bung Karno, Laugamba Berastagi. Saksi bisu—pohon
berbunga violet—itu masih tumbuh subur di sana memesona taman itu. Kicau
burung-burung terdengar di balik pepohonan menambahi ketenangan
suasana.
Alasan inikah yang membuat pemerintah kolonial Belanda membangun
sebuah rumah peristirahatan, yang kelak menjadi rumah tawanan sementara
bagi Soekarno dan dua tokoh penting itu di sana?
S Sinaga, sang penjaga bekas rumah tahanan yang selama ini sering
digunakan sebagai mess (tempat peristirahatan) bagi pejabat Pemerintahan
Sumatra Utara itu, menjelaskan bahwa memang rumah itu dulunya adalah
kediaman khusus diperuntukkan bagi jenderal-jenderal Belanda selama
melaksanakan tugasnya di daerah kolonial kawasan Tanah Karo.
Tak jelas kapan rumah ini dibangun, yang pasti sekitar tahun 1800-an,
jelas Sinaga, yang merupakan anak dari J Sinaga, sang ayah yang pernah
bekerja sebagai juru masak Belanda (koki) di rumah tersebut.
Hebatnya, meski setua itu, tampak kondisi bangunan dan perabotan yang
ada di dalamnya masih tampak kuat dan awet. Soekarno ditempatkan
sendiri dalam satu kamar. Di ruangan tengah antara kamar tidur Soekarno
dengan kamar tidur Agus Salim dan Sutan Syahrir terdapat satu set meja
dan kursi.
Ada juga lukisan tergantung di sana, sebuah lukisan artistik berobjek
bunga, karya F Van Vreeland dan lukian sebuah ladang yang asri dan
subur karya Jan Sleyter. Di dalam ruangan terasa adem, tenang. Nah, di
ruang tamu akan didapati dua buah foto yang tergantung di dinding ruang
tamu, yang masing-masing menggambarkan bahwa Seoekarno, Agus Salim dan
Sutan Syahrir pernah singgah di tempat ini.
Kedua foto merupakan hasil reproduksi Sem Anthonius Meliala. Sedang
foto aslinya, kata Sinaga, berada di tangan seorang warga negara
Belanda, yang pada 2001pernah dipinjamkan kepada Sem untuk dicetak
ulang.
“Inilah salah satu bukti sejarah yang menunjukkan bahwa Soekarno
memang pernah diasingkan di Tanah Karo,” katanya sambil menunjukkan
bougenville yang pohonnya masih tumbuh pendek dan di depannya tampak
seorang Belanda memangku senjata berlars panjang sedang mengawasi mereka
bertiga. Dan dalam foto tersebut, ketiganya terlihat sedang tertawa.
Seokarno mengenakan pakaian kebesarannya, Sutan Syahrir mengenakan
kemeja dan rompi, sedang Agus Salim tersenyum sambil memegang
tongkatnya.
“Soekarno, Agus Salim dan Sutan Sharir diperlakukan secara terhormat.
Mereka dianggap sebagai tahanan politik terhormat oleh Belanda waktu
itu,” ujar Sinaga lalu kemudian menunjukkan kamar Bung Karno, dilengkapi
dengan dua buah tempat tidur, lemari dan kamar mandi terpisah dari
ruangan. Semuanya terlihat masih terawat dan kuat.
Di luar, tepat di tengah halaman rumah, berdiri sebuah monumen
perunggu (replika) Soekarno sedang duduk menyilangkan kaki kanannya.
Dengan dua buah lampu sorot di kiri dan di kanan, pahatan buah tangan
Djoni Basri bangunan yang diberi nama Monumen Bung Karno ini diresmikan
pada 22 Desember 2005 oleh Gubernur Sumatra Utara (waktu itu T Rizal
Nurdin), dan Ketua Yayasan Bung Karno Guruh Soekarnoputra.
Awalnya, pemugaran rumah tahanan Bung Karno yang dimulai April 2001
(menjelang 100 tahun Bung Karno) akan dilengkapi dengan patung Bung
Karno setinggi 7 meter, menggambarkan Bung Karno sedang menunjuk ke
depan dengan tangan kanan, sementara tangan kiri menjepit tongkat
komando. Akan tetapi, rencana itu berobah. “Guruh mengatakan kesan
patung demikian rupa diragukan akan menimbukan opini publik yang beragam
tentang Bung Karno,” tutur Sinaga.
Jalan Medan-Brastagi Kembali Macet Total
keterangan gambar : Truk yang membuat jalan macet melanggar PP Gubernur leluasa melintas
timbangan membawa air mineral dari Daulu Tanah Karo, setelah memberi
uang.
BERASTAGI, KORAN KARO
Arus lalu lintas Medan-Berastagi dan sebaliknya, Sabtu (6/10) macet total.
Kemacetan itu, selain
disebabkan, truk sarat muatan dari Medan menuju arah Tanah Karo juga
puluhan truk dua sumbu yang membawa air mineral dari arah Tanah Karo
secara beriringan menghambat mobil pribadi.
Pantauan wartawan, truk dua sumbu yang menuju Medan membawa muatan air mineral, yang membuat jalan macat melintas di jembatan timbangan tanpa menghiraukan PP Gubernur yang melarang melintas pada hari libur sampai pukul 22.00wib.
Ketika ditanya wartawan supir truk air mineral AS dan DS di Timbangan Sibolangit mengatakan, kalau melintas timbangan dengan membayar Rp50 ribu, kapan saja bisa melintas. "Dengan uang Rp 50 ribu, kita bisa lewat kapan saja," ujar AS dan DS.
Kepala Jaga Timbangan Sibolangit ketika dihubungi tidak bertemu, dan anggotanya mengatakan tidak ada di tempat. Dikonfirmasi tentang pembayaran Rp 50 ribu setiap truk dua sumbu yang melintas, 8 petugas jembatan timbangan Sibolangit yang bertugas tidak satupun yang menjawab
KUPT Jembatan Timbang Bandar Baru Kecamatan Sibolangit, Pinem ketika dikonfirmasi melalui telepon mengatakan, jika hal itu benar diberitakan saja.
Demikian juga sejumlah kendala lainnya juga ditemui di perbatasan Deliserdang-Kabupaten Karo. Beberapa truk dan mobil pribadi rusak di kilometer 52-53 sebelum puncak Penatapen, Doulu, Kecamatan Berastagi.
Sejumlah polisi dari Polres Karo terpaksa "turun gunung" ke Sibolangit mengatur lalu lintas hingga kelancaran lalu lintas mulai mencair pada pukul 22.30 wib.
"Ini perlu segera dicari solusinya, hingga tidak tiap hari terjadi kemacetan di jalan negara ini. Perda Gubsu tentang larangan lintas truk bersumbu dua pada hari Sabtu, Minggu dan hari libur nasional lainnya juga sudah diabaikan.
Truk membawa batu dolomit dan air mineral sarat muatan juga bebas lewat timbangan Sibolangit.
Pantauan wartawan, truk dua sumbu yang menuju Medan membawa muatan air mineral, yang membuat jalan macat melintas di jembatan timbangan tanpa menghiraukan PP Gubernur yang melarang melintas pada hari libur sampai pukul 22.00wib.
Ketika ditanya wartawan supir truk air mineral AS dan DS di Timbangan Sibolangit mengatakan, kalau melintas timbangan dengan membayar Rp50 ribu, kapan saja bisa melintas. "Dengan uang Rp 50 ribu, kita bisa lewat kapan saja," ujar AS dan DS.
Kepala Jaga Timbangan Sibolangit ketika dihubungi tidak bertemu, dan anggotanya mengatakan tidak ada di tempat. Dikonfirmasi tentang pembayaran Rp 50 ribu setiap truk dua sumbu yang melintas, 8 petugas jembatan timbangan Sibolangit yang bertugas tidak satupun yang menjawab
KUPT Jembatan Timbang Bandar Baru Kecamatan Sibolangit, Pinem ketika dikonfirmasi melalui telepon mengatakan, jika hal itu benar diberitakan saja.
Demikian juga sejumlah kendala lainnya juga ditemui di perbatasan Deliserdang-Kabupaten Karo. Beberapa truk dan mobil pribadi rusak di kilometer 52-53 sebelum puncak Penatapen, Doulu, Kecamatan Berastagi.
Sejumlah polisi dari Polres Karo terpaksa "turun gunung" ke Sibolangit mengatur lalu lintas hingga kelancaran lalu lintas mulai mencair pada pukul 22.30 wib.
"Ini perlu segera dicari solusinya, hingga tidak tiap hari terjadi kemacetan di jalan negara ini. Perda Gubsu tentang larangan lintas truk bersumbu dua pada hari Sabtu, Minggu dan hari libur nasional lainnya juga sudah diabaikan.
Truk membawa batu dolomit dan air mineral sarat muatan juga bebas lewat timbangan Sibolangit.
Danrem 023-KS Kunjungi Kodim 0205-Tanah Karo
Keterangan gambar : Danrem 023/Kawal Samudra Kol Inf Andika Pratama menanam bibit pohon jambu di Makodim 0205/Tanah Karo.
BERASTAGI, KORAN KARO
Danrem 023/Kawal Samudra Kol Inf Andika
Pratama didampingi Ketua Persit Korcab Rem, Diah Hety Perkasa dan Kasrem
Letkol Inf Martohap Simorangkir serta rombongan kunjungan kerja ke
Kodim 0205/ Tanah Karo, Selasa (2/10).
Kedatangan Danrem dan
rombongan disambut Dandim 0205/Tanah Karo serta Ketua Cabang Persit
Kodim 0205/Tanah Karo serta jajaranya, di Makodim Jalan Djamin Ginting
Desa Raya Kecamatan Berastagi.
Danrem 023/KS menyebutkan, sebagai anggota TNI wajib mengikuti kedisiplinan dan prosedur dalam menjalankan tugas, mengutamakan kordinasi dalam berkomunikasi, hingga kecanggihan teknologi di era sekarang ini dapat dimanfaatkan fasilitasnya sebagai penunjang tugas.
"Seorang anggota TNI lebih terhormat mati di medan tempur, daripada mati dalam kecelakaan mengejar disiplin dalam apel pagi. Saya tidak sependapat dengan hal, itu. Keamanan dan kenyamanan bertugas serta hidup rukun mengutamakan keluarga hal yang terpuji. Meskipun tugas nomor dua dibanding keluarga, tetapi rasa bela bangsa dan negara tetap terpupuk dengan subur, agar kedisiplinan diri tetap menonjol," katanya.
Untuk itu, gunakan hand pon sebagai alat komunikasi jika, sedikit terlambat dalam apel pagi dan gunakan pula teknologi ini secara stand by selama batas waktu yang dibutuhkan, jelas Danrem.
Sedang Ketua Persit Korcab Rem, Diah Hety Perkasa mengakui, bentuk cinta kasih yang diberikan kepada suami yang merupakan seorang TNI harus benar-benar tulus. Sebab, cinta yang dalam bentuk segalanya bukan saja sebagai penyemangat dalam tugas suami, tetapi sumber kebahagian dalam keluarga.
Dalam kunjungan ini juga dilakukan pemberian bingkisan, menanam bibit jambu, peresmian mushala ditandai pengguntingan pita oleh Ketua Persit Korcab Rem, Diah Hety Perkasa.
Danrem 023/KS menyebutkan, sebagai anggota TNI wajib mengikuti kedisiplinan dan prosedur dalam menjalankan tugas, mengutamakan kordinasi dalam berkomunikasi, hingga kecanggihan teknologi di era sekarang ini dapat dimanfaatkan fasilitasnya sebagai penunjang tugas.
"Seorang anggota TNI lebih terhormat mati di medan tempur, daripada mati dalam kecelakaan mengejar disiplin dalam apel pagi. Saya tidak sependapat dengan hal, itu. Keamanan dan kenyamanan bertugas serta hidup rukun mengutamakan keluarga hal yang terpuji. Meskipun tugas nomor dua dibanding keluarga, tetapi rasa bela bangsa dan negara tetap terpupuk dengan subur, agar kedisiplinan diri tetap menonjol," katanya.
Untuk itu, gunakan hand pon sebagai alat komunikasi jika, sedikit terlambat dalam apel pagi dan gunakan pula teknologi ini secara stand by selama batas waktu yang dibutuhkan, jelas Danrem.
Sedang Ketua Persit Korcab Rem, Diah Hety Perkasa mengakui, bentuk cinta kasih yang diberikan kepada suami yang merupakan seorang TNI harus benar-benar tulus. Sebab, cinta yang dalam bentuk segalanya bukan saja sebagai penyemangat dalam tugas suami, tetapi sumber kebahagian dalam keluarga.
Dalam kunjungan ini juga dilakukan pemberian bingkisan, menanam bibit jambu, peresmian mushala ditandai pengguntingan pita oleh Ketua Persit Korcab Rem, Diah Hety Perkasa.
Langganan:
Postingan (Atom)


